Apr 12, 2005
Hakikat Tauhid

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-nabi) sebelum kamu; jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS az-Zumar: 65-66) Hakikat Tauhid Khat “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-nabi) sebelum kamu; jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS az-Zumar: 65-66) Tauhid, merupakan pegangan pokok yang sangat menentukan bagi kehidupan manusia. Karena ia menjadi landasan bagi setiap amal. Sesuai syariah Islam, tauhidlah yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti. Dan amal yang tidak dilandasi dengan tauhid adalah sia-sia. Sementara amal yang dilandasi dengan kesyirikan (ditujukan selain Allah) akan menyengsarakannya di dunia dan akhirat. Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan pula sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran Wujud (keberadaan)Nya dan Wahdaniyah (keesaan)Nya, dan bukan pula sekedar mengenal nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Bahkan Iblis, meyakini bahwa "Tuhannya" adalah Allah, ia mengakui keesaaan dan kemahakuasaan-Nya. Kaum Jahiliyah yang dihadapi Rasulullah Saw. kala itu, juga meyakini bahwa Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS Luqman: 25) Akan tetapi kepercayaan dan keyakinan mereka itu, belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat Muslim, yang beriman kepada Allah. Dari sini lalu timbul pertanyaan pada benak kita; apakah hakikat tauhid itu? Hakikat Tauhid, ialah pemurnian ibadah kepada Allah; yaitu menghambakan diri hanya kepada-Nya secara murni dan konsekuen, dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan merendahkan diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya. Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah Swt. Dan pada hakikatnya, inilah misi para Nabi dan Rasul, yaitu untuk menegakkan tauhid. Sejak Rasul yang pertama, Nuh As, hingga Rasulullah Muhammad Saw. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS adz-Dzariyat: 56) “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut”. (QS an-Nahl: 36) Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa; tiada Ilah yang haq selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Maknanya, tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasul, yaitu as-Sunnah. Orang yang mengikrarkannya, akan masuk surga selama tidak dirusak dengan tindakan syirik atau kufur akbar. “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang, mendapat petunjuk”. (QS al-An’am: 82) Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku dzalim kepada diri sendiri? Lalu Nabi Saw. menjawab, yang dimaksud bukan apa yang kalian maksudkan, akan tetapi maksud daripada kedzaliman itu adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar nasihat Luqman kepada putranya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar suatu kedzaliman yang besar”. (QS Luqman: 13) (HR Bukhari) Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengesakan Allah. Orang-orang yang tidak mencampur adukkan antara keimanan dengan syirik, serta menjauhi segala perbuatan syirik; sungguh, mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksa Allah di akhirat. Dan akan diberikan jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk di dunia. Jika dia adalah seorang ahli tauhid yang murni dan bersih dari noda-noda syirik serta ikhlas mengucapkan -Laa Ilaaha Illallah-, maka tauhid kepada Allah menjadi penyebab utama bagi kebahagiaan dirinya, serta menjadi penyebab bagi penghapusan dosa-dosanya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shaamith: Khat “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya dan kalimah-Nya yang telah disampaikan kepada Maryam serta ruh dari pada-Nya, dan (bersaksi pula bahwa) surga dan neraka adalah benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkan ke dalam surga, apapun amal yang diperbuatnya”. (HR Bukhari dan Muslim) Maksudnya, segenap persaksian yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagaimana yang terkandung dalam hadist tersebut, maka Allah Swt. berhak memasukkan dirinya ke surga. Sekalipun dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat. Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam hadist Qudsi, Allah berfirman: “Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, niscaya aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula”. (HR Tirmidzi) Hadist tersebut menegaskan tentang keutamaan tauhid. Tauhid merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid merupakan sarana paling agung untuk melebur dosa-dosa dan maksiat. Jika tauhid yang murni terealisasi dalam hidup seseorang, baik secara pribadi maupun jama’ah, niscaya akan menghasilkan buah yang sangat manis. Di antara buah manis yang didapat adalah; Tauhid memerdekakan manusia dari segala perbudakan dan penghambaan kecuali kepada Alah Swt. Memerdekakan fikiran dari berbagai khurofat dan angan-angan yang keliru. Memerdekakan hati dari tunduk, menyerah dan menghinakan diri kepada selain Allah Swt. Memerdekakan hidup dari tirani kekuasaan yang tidak dilandasi keimanan kepada Allah Swt. Tauhid membentuk kepribadian yang kokoh. Arah hidup yang jelas, tidak menggantungkan diri kepada selain Allah Swt. Hanya kepada-Nya ia berdo’a dan meminta dalam keadaan lapang atau sempit. Berbeda dengan seorang musyrik yang hatinya terbagi-bagi untuk tuhan-tuhan dan sesembahan yang selain Allah Swt. Orang Mukmin hanya menyembah satu Ilah; Allah Swt. Ia mengetahui apa yang membuat-Nya ridla dan murka. Ia akan melakukan apa yang membuat-Nya ridha, sehingga hati menjadi tentram. Adapun orang musyrik, ia menyembah tuhan-tuhan yang banyak. Tuhan ini menginginkan ke kanan, sedang tuhan yang lainnya menginginkan ke kiri. Tauhid mengisi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan. Tidak merasa takut kecuali kepada Allah. Tauhid menutup rapat celah-celah kekhawatiran terhadap rizki, jiwa dan keluarga. Ketakutan terhadap manusia, jin, kematian dan lainnya menjadi sirna. Seorang Mukmin hanya takut kepada Allah. Karena itu ia merasa aman ketika kebanyakan orang merasa ketakutan, ia merasa tenang ketika mereka kalut. Tauhid memberikan nilai ruhiyyah kepada pemiliknya. Karena jiwanya hanya penuh harap kepada Allah, percaya dan tawakal kepada-Nya, ridha dengan qadar (ketentuan)Nya, sabar menghadapi musibah, serta sama sekali tak mengharap sesuatu pun kepada makhluk. Ia hanya menghadap dan meminta kepada-Nya. Bila datang musibah ia segera mengharap kepada Allah agar segera dibebaskan darinya. Ia tidak meminta kepada orang-orang mati. Yang menjadi semboyan dan pendiriannya adalah sabda Rasul Saw: “Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah”. (HR Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan shahih) Tauhid merupakan dasar persaudaraan dan keadilan. Karena tauhid tidak membolehkan pengikutnya mengambil Ilah/sesembahan selain Allah di antara sesama mereka. Sifat ketuhanan hanya milik Allah semata. Semua manusia wajib beribadah hanya kepada-Nya. Karena, segenap makhluk adalah hamba-Nya. Itulah diantara buah manis Tauhid, yang membebaskan pelakunya dari kehinaan dan kesengsaraan. Dan tauhidlah yang akan mengembalikan kehormatan Islam dan harga diri kaum Muslimin. Serta menaikkan derajat dan martabat kaum Muslimin di atas segala kehinaan yang selama ini dialami oleh mereka.

Posted at 07:48 am by jamaika
Make a comment  


<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed